Perempuan PPP Minta Jatah
Laporan:
Jakarta, Rakyat Merdeka. Di tengah perebutan kursi panas ketua umum di arena Muktamar ke-VI tadi malam, kaum perempuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) malah berteriak lantang. Mereka meminta agar siapapun yang menjadi ketua umum baru partai itu bersedia mengakomodir kaum hawa.
Protes tersebut disampaikan fungsionaris DPP PPP Fernita Darwis. Kata Fernita, dalam periode Hamzah Haz, kaum perempuan PPP kurang diakomodir. Buktinya, dari 37 Pengurus Harian Pusat (PHP), hanya ada tiga kaum Hawa, selebihnya kaum Adam.
“Sekarang kami sedang giat melobi agar keterwakilan perempuan dikedepankan. Minimal memang tujuh pengurus, tapi kalau bisa ya 11 pengurus itu perempuan,” tegasnya.
Kata perempuan yang juga aktif di Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) itu. Gerakan perempuan yang kini ada di berbagai kubu sudah mengerucut pada satu tuntutan itu. Sebab, pengalaman terdahulu membuktikan betapa kaum Hawa kurang diperhatikan, salah satunya dalam hal pencalegan.
Hasilnya, dalam dua periode (1999-2004 dan 2004-2009) hanya tiga perempuan PPP yang jadi anggota parlemen. “Yang periode ini untung karena ada Pak Suryadharma Ali yang jadi menteri lalu di-PAW dan muncullah Lena Mariana Mukti.”
“Kami harap kandidat yang muncul jadi ketua bisa benar-benar mengakomodir hal ini. Memang mereka tak janji, tapi komitmen mereka sepertinya memberikan angin surga kepada kaum perempuan PPP,” bebernya dikutip Situs Berita Rakyat Merdeka. RM
http://www.myrmnews.com
Jakarta, Rakyat Merdeka. Di tengah perebutan kursi panas ketua umum di arena Muktamar ke-VI tadi malam, kaum perempuan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) malah berteriak lantang. Mereka meminta agar siapapun yang menjadi ketua umum baru partai itu bersedia mengakomodir kaum hawa.
Protes tersebut disampaikan fungsionaris DPP PPP Fernita Darwis. Kata Fernita, dalam periode Hamzah Haz, kaum perempuan PPP kurang diakomodir. Buktinya, dari 37 Pengurus Harian Pusat (PHP), hanya ada tiga kaum Hawa, selebihnya kaum Adam.
“Sekarang kami sedang giat melobi agar keterwakilan perempuan dikedepankan. Minimal memang tujuh pengurus, tapi kalau bisa ya 11 pengurus itu perempuan,” tegasnya.
Kata perempuan yang juga aktif di Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) itu. Gerakan perempuan yang kini ada di berbagai kubu sudah mengerucut pada satu tuntutan itu. Sebab, pengalaman terdahulu membuktikan betapa kaum Hawa kurang diperhatikan, salah satunya dalam hal pencalegan.
Hasilnya, dalam dua periode (1999-2004 dan 2004-2009) hanya tiga perempuan PPP yang jadi anggota parlemen. “Yang periode ini untung karena ada Pak Suryadharma Ali yang jadi menteri lalu di-PAW dan muncullah Lena Mariana Mukti.”
“Kami harap kandidat yang muncul jadi ketua bisa benar-benar mengakomodir hal ini. Memang mereka tak janji, tapi komitmen mereka sepertinya memberikan angin surga kepada kaum perempuan PPP,” bebernya dikutip Situs Berita Rakyat Merdeka. RM
http://www.myrmnews.com
Posting Komentar